Rabu, 18 Desember 2013

Ekonomi sebagai landasan Pendidikan suatu konsep pemikiran



Ekonomi < pendidikan
 maka sulit meningkatkan pendidikan karena secara ekonomi tidak mampu ( banyak gedung sekolah rusak, guru gajinya kecil, banyak siswa tidak mampu membayar uang sekolah) maka kualitas pendidikan sulit diwujudkan. Kualitas pendidikan dapat diwujudkan asal para guru dan praktisi pendidikan mau hidup sederhana. Pada situasi ini perjuangan guru yang mau hidup sederhana demi anak-anaknya untuk mencapai kualitasnya agar sukses dalam hidupnya menjadi cita-cita yang ideal.

 Ekonomi > pendidikan
orang  yang punya uang banyak (kaya) dapat memilih sekolah yang faforit walau kenyataanya anaknya kurang mampu dalam prestasi maka ini hanya meningkatkan kuantitas dan kuota sekolah tetapi kualitas manusia terabaikan sebab ada anggapan semua dapat dibeli. Jika ini tidak ditunjang peningkatan kualitas pendidikan maka yang ingin dicapai hanya kuantitas. Yang penting kaya, gurunya glamor, yang penting mengajar, para siswa tidur bagaimana kondisi tersebut dapat meningkatkan kualitas pendidikan ?

 Ekonomi = pendidikan
ada keseimbangan jika ingin meningkatkan kualitas maka secara ekonomi perlu ditingkatkan. Jika kualitas pendidikan ingin ditingkatkan maka sarana dan prasarana penunjang juga perlu ditingkatkan. Maka secara ideal peningkatan ekonomi dapat mendukung peningkatan kualitas pendidikan atau sebaliknya.

Konsep pendidikan Barat bagi Indonesia berdasar pemikiran hegel 

PERMASALAHAN :
Belanda menjajah Indonesia membawa budaya  pendidikan bercorak barat yang dampaknya sampai sekarang ini padahal Belanda sebagai penjajah bertentangan dengan nilai-nilai yang ingin diperjuangkan bangsa Indonesia Bagaimana komentar anda?
PEMBAHASAN/PENDAPAT :
1.      Belanda menjajah Indonesia
Bagi Belanda . Secara ontologi adalah baik karena demi kemakmuran, dan kebaikan masyarakat Belanda walaupun secara  epistimologi melanggar: kebaikan, norma-norma yang ada, menghalalkan segala cara untuk menguasai bangsa lain dan mengambil keuntungan. Fenomena yang tampak adalah penjajahan melanggar HAM dan numena yang muncul  kesengsaraan, kemiskinan, kebodohan dan lain-lain. Secara aksiologi tindakan menjajah bangsa lain tidak dibenarkan, walau untuk kemakmuran bangsanya sendiri dengan merugikan bangsa lain.
Bagi Indonesia penjajahan secara ontologi, epistimologi dan aksiologi tidak baik karena semua bertentangan dengan nilai-nilai hakiki yang ada.
2.      Belanda membawa budaya pendidikan Barat yang membawa kemajuan bangsa Indonesia melalui sistem penjajahan.
Bagi Indonesia, secara ontologi budaya pendidikan barat dan sikap Belanda mengenalkan budaya Barat adalah tindakan yang membawa kebaikan, dan kebenaran karena dapat membawa kemajuan bersama. Secara epistimologi, pendidikan yang dikenalkan baik dalam situasi penjajahan ataupun dalam keadaan damai tetap saja membawa keuntungan dan kemajuan dan dapat diterima semua pihak. Walaupun tujuan Belanda adalah agar bangsa Indonesia dapat membaca dan menulis guna membantu meringankan Belanda mendapatkan tenaga kerja yang murah dari bangsa Indonesia. Pendidikan yang dilaksanakan juga secara diskriminatif.
Secara aksiologi, tindakan Belanda mengenalkan budaya pendidikan Barat dalam situasi penjajahan tidak dapat dibenarkan karena akan menimbulkan perubahan mendasar dan mempengaruhi  tata nilai, budaya, dan norma-norma yang telah ada dan berlaku dalam masyarakat terjajah. Pendidikan di masa penjajahan lebih banyak menguntungkan penjajah dari pada bangsa yang terjajah seperti biaya yang mahal, bahasa yang digunakan,  arah dan tujuan yang dicapai, nilai-nilai dan norma-norma sosial yang ditanamkan tentunya diselaraskan dengan kepentingan penjajah dan kelestarian kekuasaan penjajah . Walaupun demikian bagi bangsa Indonesia tetap melanjutkan pendidikan yang dikenalkan Belanda dengan menghilangkan yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia dan mempertahankan hal-hal yang mendukung perjuangan bangsa Indonesia.
Secara ontologi pendidikan Barat mengajarkan kebaikan, kecerdasan emosi, kecerdasan pengetahuan, keadilan, persamaan, hakekat hidup lewat pendidikan yang diajarkan oleh penjajah Belanda
Epistimologi : berdasarkan pemikiran Hegel tentang tesa, sintesa dan antitesa, Belanda dapat dimasukan sebagai tesa dan Indonesia sebagai antitesa (pihak terjajah) sintesanya bangsa Indonesia mengikuti pola pendidikan ala Barat alasannya walau Belanda itu jahat sebagai penjajah tetapi ada sisi baiknya yaitu mengenalkan pendidikan Barat.
Realitas yang ada secara epistimologi sikap Belanda adalah mencerdaskan dengan cara diskriminatif yaitu hanya orang yang mampu, golongan bangsawan dan orang –orang Belanda. Hal ini jelas menyimpang dari unsur keadilan, bersifat deduktif ke indukrif dan yan g diuntungkan golongan tertentu dan merugikan kelompok lain.
Aksiologi meskipun pendidikan pola barat dikenalkan oleh penjajah tetapi dapat dimanfaatkan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan menghilangkan sisi-sisi jeleknya seperti diskriminasi.